Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prodbdg/public_html/blog/wp-includes/cache.php on line 36

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prodbdg/public_html/blog/wp-includes/query.php on line 21

Deprecated: Assigning the return value of new by reference is deprecated in /home/prodbdg/public_html/blog/wp-includes/theme.php on line 540
Produk Bandung News » STRATEGI MARKETING

Archive for the ‘STRATEGI MARKETING’ Category

Peluang emas menjelang lebaran

Sunday, August 10th, 2008

kamilia2.gif


Moment lebaran atau hari raya adalah moment yang paling   membahagiakan bagi umat islam. Dalam ajaran islam sangat dianjurkan untuk menyambutnya dengan hati yang baru atau hati yang lebih suci dari sebelumnya. Proses penyucian hati ini dilakukan selama bulan ramadhan.


Sudah menjadi tradisi hari raya disambut dengan pulang kampungan dan sesuatu yang baru seperti baju baru, sandal baru, sepatu baru, tas baru dan sebagainya.  

Jumlah populasi muslim di Indonesia lebih dari 220 juta jiwa, jika 80 % dari umat muslim atau sekitar 180 juta jiwa melakukan pembelian dan jika setiap orang melakukan pembelian Rp. 50.000, ini berararti akan terjadi pembelian sekitar 9 triliun.  Jumlah tersebut sangat besar bukan??? Angka tersebut adalah angka penjualan tertinggi sepanjang tahun di Indonesia.

Jadi…apakah anda ingin ikut menikmati rezeki melimpah tersebut??? Jangan tunda lagi, bergabung bersama kami untuk ikut serta menikmati PELUANG EMAS dari KUE LEBARAN tahun ini.

Segera kunjungi  www.produk-bandung.com

   

Bisnis Retail Raksasa Tak Selalu Menang

Saturday, August 9th, 2008

Bisnis Retail Raksasa
Tak Selalu Menang
Eksekutif.com - Jakarta,

Pasar ritel sedang menunjukkan kegairahan baru. Bagaimanakah pemain lokal bersaing dengan raksasa retail dunia ?

Pertengahan April 2004, raksasa ritel asal Amerika Serikat (AS), Wal Mart, menyulap Seiyu, perusahaan ritel Jepang, menjadi hypermarket di Numazu. Meski Wal Mart telah sejak dua tahun lalu menancapkan kepemilikannya di Seiyu, namun ia tidak terburu-buru merubahnya menjadi hypermarket. Selama dua tahun Wal Mart membiarkan Seiyu menyerupai supermarket. Di Jerman, sebuah toko ritel bernama Aldi menyeruak ke permukaan. Awalnya, Aldi lebih pas dibilang toko ketimbang supermarket. Pengunjung toko yang kondang dengan harga murah ini adalah kalangan menengah ke bawah. Guna menghadapi pesaingnya. Aldi merubah strateginya. Ia mengganti semua produknya dengan merek sendiri (private label). Barang yang dijualpun tidak banyak jumlahnya, hanya 300-400 item saja.

Adu cerdik pebisnis ritel sepertinya tak bisa dihindari. Segala upaya dilakukan pemain besar - global maupun lokal kecil. Pemain besar berjuang keras untuk menancapkan kuku bisnisnya dengan memperluas ekspansi di berbagai negara, sementara pemain lokal berupaya untuk mempertahankan pasarnya yang telah digenggamnya lama.

Bisnis ritel tidak ada matinya. Meski di beberapa negara pemain global mengerem ekspansi, namun itu bukan pertanda mandegnya pasar ritel. Beberapa peritel besar tampak tidak seagresif dulu lagi. Namun bukan berarti pasar ritel sudah habis. Pasar ritel masih tetap menjanjikan. Mandeknya ekspansi beberapa pemain besar lebih dikarenakan strategi bisnis mereka. Sebagian besar pemain lebih terfokus pada perbaikan internal. Selain melakukan efisiensi, mereka juga fokus pada daerah-daerah yang lebih menguntungkan. Mereka menginginkan dominasi di daerah yang lebih menguntungkan.

Wal Mart adalah contoh menarik. Raksasa ritel ini bukan saja mengerem ekspansinyadi berbagai negara yang menurutnya tidak menguntungkan. Di Indonesia misalnya, Wal Mart terpaksa harus hengkang karena dinilai tidak menguntungkan. Padahal saat itu (1998) pesaing utamanya, Carrefour, sedang serius menggarap pasar Indonesia.

Penghematan menjadi salah satu cara favorit yang dilakukan untuk mempertahankan dominasi. Diperkirakan tahun 2002 Wal Mart berhasil membuat pelanggan AS berhemat US$ 20 miliar. Meski banyak yang mengkritik langkah-langkah bisnis Wal Mart, namun di mata konsumen Wal Mart tetap terbaik dalam hal harga. Perusahaan dengan pendapatan US$ 245 miliar (2002) inipun berani mengklaim “Always Low Price, Always Wal Mart.”

Sebaliknya perusahaan ritel Indonesia justru semakin menambah gerainya sekalpun rugi. Di saat pemain global berhenti berekspansi dan melakukan efisiensi, perusahaan Indonesia justru berekspansi, sekalipun rugi.

Pertumbuhan pasar ritel tidak sepesat pertumbuhan jumlah pemainnya. Jumlah pemain bertambah namun nilai transaksinya relatif tetap. Akibatnya, keuntungan perusahaan ritelpun turun. Sebut saja Hero dan Rimo Catur Lestari. Laba Hero Supermarket pada Kuartal I 2003, turun 71,4% dibanding tahun sebelumnya. Rimo Catur Lestari malah lebih parah. Pada kuartal yang sama justru mengalami kerugian sebesar Rp 4,3 miliar.

Sekalipun tidak menguntungkan, pembukaan gerai baik minimarket atau oleh hypermarket, merupakan langkah strategis dalam jangka panjang. Sekalipun rugi dalam jangka pendek namun cukup menjanjikan keuntungan dalam jangka panjang. Mengingat potensi pasar ritel Indonesia masih besar. Hal ini terlihat dari masih besarnya pasar tradisional (73%) dengan jumlah retailer sebanyak 1,7 juta dan pertumbuhan 27%. Jika setiap tahun terjadi pergantian pasar tradisional menjadi pasar modern 1% maka dalam waktu 27 tahun bisnis ritel Indonesia masih cerah. Itulah sebabnya sekalipun rugi pemain ritel rela membuka gerai baru.

Dengan pertumbuhan bisnis ritel sebesar 8% per tahun, pasar Indonesia tetap menarik. Permasalahannya sekarang seberapa siap pemain lokal menghadapi gempuran pemain asing. Mungkin mereka perlu belajar dari kesuksesan Aldi, agar tidak hanya menambah jumlah outlet tapi juga inovatif dalam mengembangkannya.(k)

http://www.eksekutif.com/berita/artikel.html?aid=691

Penjualan bukanlah akhir dari kegiatan Pemasaran

Tuesday, July 29th, 2008

Bagian marketing/Pemasaran  memegang peranan penting dalam kehidupan sebuah perusahaan. Bagian ini ibarat nafas perusahaan, yang berfungsi menyalurkan produk-produk yang dihasilkan oleh sebuah perusahaan.

Strategi marketing harus terus dikembangkan.  Marketing harus pintar mencari celah dan kesempatan di tengah tinggi nya persaingan. Selain mengembankan pasar baru, pasar yang sudah terbentuk harus tetap di jaga melalui kualitas purna jual yang memuaskan pelanggan.  Retensi dan loyalitas pelanggan harus tetap dijaga.

Perusahaan dapat menikmati pertumbuhan penjualan melalui loyalitas pelanggan. Sehingga pertumbuhan yang berkesinambungan dapat tetap terjaga. Pelayanan purna juga yang baik akan menciptakan hubungan yang kuat antara perusahaan dan pelanggan. Pembentukan ikatan dapat dilakukan melalui pendekatan keuangan (misalnya harga yang kompetitif) dan pendekatan sosial (kenyamanan pelanggan dalam menggunakan produk) an.

Penjualan bukanlah akhir dari proses pemasaran, sebaliknya merupakan awal hubungan dengan pelanggan. Fokusnya terletak pada hubungan, bukan penjualan individu. Dengan terbinanya hubungan baik dengan pelanggan pada akhirnya mampu membentuk loyalitas pelanggan.

Menurut Gede Udiyana dan Kaler Suputra menyatakan strategi pemasaran terfokus pada loyalitas konsumen saat ini dan di masa mendatang. Hal itu mencangkup dua hal yaitu pergeseran orientasi dari kebutuhan dan keinginan konsumen jangka pendek dan menengah ke orientasi kepada kebutuhan dan keinginan konsumen jangka panjang.

Berikutnya, terintegrasinya kebijakan strategi bisnis dengan kebijakan strategi pemasaran. Sedangkan permintaan yang diterima sebuah perusahaan asuransi datang dari dua kelompok, yakni pelanggan baru dan lama.

Dikutip dari dari wordpress.com